Bertemu Pahlawan dan Pelari dari Seberang Lautan di Borobudur Marathon 2018

0
645

Saya kerap kali merasa jengah ke sebuah tempat yang berisi kerumunan orang yang berbicara dan berjalan tak tentu arah, ke Candi Borobudur misalnya. Hal ini membuat saya sedikit sekali punya mendokumentasikan diri sendiri. Kali ini tetap sama, saya tak punya foto diri. Tapi alasannya bukan lagi jengah, saya malah terlalu asyik mengamati berbagai macam orang di gelaran Borobudur Marathon 2018, Minggu (18/11) lalu. Dari sekian banyak orang di sabtu lalu, mata saya tidak bisa melepaskan diri dari dua macam peserta. Mereka adalah pelari yang memakai balon di punggungnya dan pelari-pelari yang terbata-bata berbicara Bahasa Indonesia.

Pacer di antara para peserta/timgenpi

Golongan pelari yang pertama sangat sedikit jumlahnya dibanding ribuan peserta yang dilepas di garis start. Awalnya saya kira, orang-orang ini berasal dari sebuah komunitas lari yang memang ingin tampil beda. Selain keberadaan balon berwarna kuning di punggung mereka, saya mengamati senyum yang sering tersungging untuk peserta lain. Tidak banyak peserta yang bisa melakukan hal sama, entah karena alasan grogi atau masih mengantuk karena harus bersiap pagi-pagi sekali. Sakin penasarannya, saya mendekat dan menyadari perbedaan kaos yang mereka gunakan dari peserta lainnya. Dua ciri-ciri lainnya ternyata dilengkapi dengan kaus putih bertuliskan ‘PACER’ di bagian dada.

Selidik punya selidik, mereka adalah golongan yang memang harus terlihat oleh peserta-peserta lain selama Borobudur Marathon berlangsung. Para Pacer diberi penanda serupa dengan blue line yang dipasang panitia untuk memandu pelari menyelesaikan perlombaan. Bedanya, pacer-pacer ini memandu peserta dalam hal pace atau kecepatan berlari. Peserta lain yang ingin dipandu untuk mencapai garis finish sesuai dengan target yang mereka tetapkan tinggal merapat dan mengikuti kecepatan lari para Pacer. Balon yang ada di masing-masing Pacer juga menuliskan target waktu finish berbeda misalnya tertulis 10K 60 menit, berarti sang pacer akan belari 1km per-6 menit sehingga selesai berlari dalam waktu 1 jam. Ternyata di Borobudur Marathon 2018 kali ini, ada 27 Pacer yang disebar untuk kategori Full Marathon, Half Marathon,dan 10K.

Pacer/media Brobudur Marathon 2018

Salah satu Pacer yang berhasil saya kulik ceritanya mengaku bahagia bisa berkesempatan ambil bagian di Borobudur Marathon kali ini. Ia melakukan dua pengalaman perdana sekaligus, menjadi Pacer sekaligus berlari di daerah Kabupaten Magelang. Tapi tentu ini bukan kali pertamanya berlari puluhan kilometer, ia sudah mengantongi pengalaman melakukan ultra marathon dan event-event lari sebelumnya. Modal ini lah yang menjadikan panitia memilihnya menjadi salah satu pacer di Borobudur Marathon 2018 dari sekian banyak orang yang mendaftar. Pertimbangan khusus yang disyaratkan panitia tentu beralasan, sebab para Pacer harus berlari dengan kecepatan konstan sejak awal hingga selesai. Mereka harus sehat secara fisik dan sudah terbiasa dengan jalur marathon, para Pacer juga bermental sportif dan berpribadi ramah. Bagaimana tidak, ketika berlomba siapapun pasti ingin cepat sampai, belum lagi ketika disalip ratusan orang niatan untuk mengejar harus diredam. Pun ketika beberapa pelari mengikuti langkah mereka, bukan hanya harus menjaga kecepatan tetap konstan mereka juga bertugas menyemangati meski juga lelah.

Pacer dan peserta di garis start / media Borobudur Marathon 2018

For all pacer in marathon events, not all heroes war a capes some wear balloon!

Golongan pelari kedua yang tak kalah menarik bagi saya adalah mereka yang berasal dari mancanegara. Banyak dari pelari yang memang sudah berencana liburan atau bekerja sementara di Indonesia kemudian mendengar adanya event bergengsi ini langsung bergegas mendaftar. Satu dari sekian banyak yang berhasil saya kenal adalah seoran pelari asal Perancis yang baru saja mulai bekerja di Indonesia. Ia baru tiba dua minggu sebelum Borobudur Marathon 2018 digelar dan langsung mendaftarkan diri karena ketertarikannya akan olahraga lari. Setelah menjalani marathon, ia bercerita dengan semangat bagaimana menyenangkannya berlari dan disemangati sepanjang rute oleh warga sekitar. Ia juga mengaku senang berkesempatan mengunjungi Caandi Borobudur pada kunjungan awalnya di Indonesia.

Pelari asal Perancis/timgenpi

Acara tahunan yang rutin digelar sejak 2012 ini sudah ditunggu pecinta olahraga lari tidak hanya di Indonesia, buktinya panitia mencatat 28 negara berpartisipasi dalam ajang ini. Borobudur Maraton 2018 menggoda bagi negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, atau Thailand. Pelari dari Jepang, Kenya, dan Ethiopia juga rela jauh-jauh terbang demi merebut gelar juara sekaligus menikmati Indonesia. Usaha mereka tak sia-sia, pelari-pelari asal Kenya menduduki hampir semua podium juara di semua kategori. Kehadiran pesaing tingkat internasional bagi saya juga menjadi pemacu semangat bagi pelari-pelari marathon Indonesia agar tertantang dan mencetak rekor waktu lebih baik. Borobudur Marathon 2018 menjadi ruang yang menguntungkan bagi Indonesia karena para atlet kita bisa belajar di rumahnya sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here