Tuesday, May 26, 2020
Home Blog

Ketika Mulai Lelah Jalan-jalan, Saatnya ke 360 Dome Theatre Untuk Rebahan

0
360 Dome Theatre Jogja
Berlibur bersama keluargadi 360 Dome Theatre Jogja

Masa-masa libur seluruh anggota keluarga memang sayang hanya jika dilewatkan tanpa kegiatan bersama. Jika Jogja adalah kampung halaman atau masuk dalam tempat rencana liburan, ada tempat baru yang seru menunggu. 360 Dome Theatre yang berlokasi di komplek Pyramid, Sewon,Bantul siap memberi sensasi berbeda dalam menonton film. Tempat ini baru dibuka awal Mei 2019 lalu, jadi bisa dijadikan tujuan wisata anti-mainstream tentunya.

Membaca Ulang Catatan Petualang Sepanjang Jogja Hingga Magelang

0
Diskusi Panel/tim liputan genpi

Nusantara dikenal karena rempah-rempahnya dan menjadi rebutan bangsa-bangsa mancanegara. Itulah sejarah yang saya hapal mati sejak masa Sekolah Dasar (SD). Ternyata ada catatan sejarah yang jauh lebih tua dan datang dari abad ke-7, tentu sebelum Eropa tiba.

Yi Jing, Sang Pengelana yang gemar berpetualang jauh, justru terkagum-kagum dan mencatat bahwa di Nusantara telah berdiri pusat pembelajaran yang di masa kini mungkin setara dengan universitas. Siapa sangka, beratus tahun kemudian, tempat yang disinggahi Yi Jing ini kita kenal dengan sebutan Pulau Sumatera.

Bertemu Pahlawan dan Pelari dari Seberang Lautan di Borobudur Marathon 2018

0

Saya kerap kali merasa jengah ke sebuah tempat yang berisi kerumunan orang yang berbicara dan berjalan tak tentu arah, ke Candi Borobudur misalnya. Hal ini membuat saya sedikit sekali punya mendokumentasikan diri sendiri. Kali ini tetap sama, saya tak punya foto diri. Tapi alasannya bukan lagi jengah, saya malah terlalu asyik mengamati berbagai macam orang di gelaran Borobudur Marathon 2018, Minggu (18/11) lalu. Dari sekian banyak orang di sabtu lalu, mata saya tidak bisa melepaskan diri dari dua macam peserta. Mereka adalah pelari yang memakai balon di punggungnya dan pelari-pelari yang terbata-bata berbicara Bahasa Indonesia.

Pelari Borobudur Marathon 2018 Sukses Bikin Iri

2
Lari di seputaran candi bikin iri!

Candi Borobudur tidak pernah hilang gagahnya sejak kali pertama saya bertandang. Bangunan peninggalan masa lalu ini masih terasa magis, begitu juga di pagi itu saat matahari bahkan belum menerangi. Siluet stupa yang ada seakan sudah menunggu saya dan ribuan orang yang akan berpartisipasi dalam ajang tahunan Borobudur Marathon 2018. Bukan tanpa sebab saya mendatangi acara ini, sejak beberapa hari saya sudah mendengar gaung acara ini di berbagai sosial media dan beberapa teman yang ikut menjadi peserta. Bahkan beberapa hari sebelum acara, beberapa spanduk yang dipasang panitia sepanjang lintasan lari menjadi viral dan menyita perhatian warga di dunia nyata dan maya.

Menentukan Langkah Sebelum Jengah

0

Berada di zona akhir tapi belum juga sampai di garis finish rasanya seperti menanggung beban berkali-kali lipat lebih berat, akui saja. seluruh semesta rasanya berisi tanda tanya, bahkan juga di dalam kepala. Iya kan? Oke maaf, saya malah menambahinya. Padahal salah satu tujuan saya menuliskan ini adalah untuk memberi selamat. Selamat karena kamu mau berjuang sampai satu perjalanan hampir usai dan menampung sekian banyak tanya dengan teramat kuat.

Rindu Matahari di Kemarau Dieng

0
“Banyak hal lebih terasa berarti ketika kita telah kehilangan” – Anonim
Saya seringkali mengamini ungkapan ini ketika patah hati pada seseorang atau kehilangan barang kesayangan. Tapi ternyata, sebuah  benda langit seperti matahari bisa juga membuat saya merasa kehilangan, meski tetap mentereng di angkasa dan jarang saya perhatikan. Saya kehilangan matahari pada perjalanan musim kemarau yang membuat matahari bangun lebih percaya diri dengan sedikit awan yang berani mengelilingi.

Hujan (kabut dan senja) di Bulan Juni

0

 

Seorang penyair pernah menasbihkan, hujan di bulan ini adalah tetes paling tabah. Aku tak sepenuhnya menolak atau setuju, sebab ada yang lebih tabah dibanding limpasan air langit itu. Orang—orang terdekatku yang bertakdir membawa kebun bunga di dadanya dan membuat sekitarnya hangat, persis musim panas. Aku tak bercanda atau bermaksud mencela, bukan dalam maksud memuji juga. Mereka pasti akan jumawa membaca pembuka ini, padahal tulisan ini salah satu hasil belajar dan berdekatan selama bertahun-tahun dengan mereka meski tanpa pertalian darah.

Kepada Juni, aku berterima kasih untuk menghadirkan kesempatan orang-orang ini ada, mereka yang mendukungku tentu saja. Sejak waktu ke waktu, pertengahan tahun memang tak pernah ku lewati dengan biasa saja. Kali ini, Juni mengajak berlari, salah satu kegiatan yang tak pernah mahir ku lakukan. Tapi sudah ku bilang, kan? Aku beruntung dikelilingi mereka yang menjadi tuan rumah di awalan musim kemarau ini. Oh, aku lupa bilang Juni seringkali adalah waktu terbaik bagiku jatuh cinta, meski beberapa di antaranya harus dikisahkan dalam bentuk hati yang patah.

Di bawah bulan Ramadan dan Syawal serta rasi bintang Gemini-Cancer kali ini, ada rutinitas yang tak banyak berubah. Biar ku ceritakan sedikit, ada lebih banyak ucapan dan doa-doa baik yang ku alamatkan satu-satu kepada mereka yang setahun lagi genap berkisah dan masih mau menemaniku. Tahun ini bahkan jumlahnya bertambah. Aku bersyukur masih bisa mengulang doa yang sama kepada mereka yang bertahun-tahun mau mengamini dan menambahkan beberapa yang baru. Selain gugus bintang, tentu saja bulan suci lah yang menjadikan aku bertemu lebih banyak lagi wajah dan kabar. Ini seperti pembayaran Juni sebelumnya, yang sengaja aku lewatkan dengan menutup muka karena tanggung jawab memakan waktu lebih lama untuk diselesaikan. Aku hampir berprasangka mereka tidak lagi menghitungku dalam kerumunan. Tetapi ternyata keberadaanku masih dicari dan beberapa nama menyuarakan rindunya terang-terangan. Aku dihujani rintik yang sengaja datang untuk membangkitkan petrichor dan daya berlari lebih laju.

Juni ini tak hanya datang dengan terik seperti seharusnya dan hujan sebagai anomali, baik secara harfiah maupun prasangka. Bagiku, kali ini Juni sengaja datang dengan kabut lebih pekat di usiaku yang tak lagi bisa dibilang remaja. Kini pilihan tak lagi berwarna hitam putih atau merah biru dan tak hanya berpintu satu, sebab semakin banyak sisi yang harus ku lihat sendiri. Keputusan-keputusan ini berlagak seperti hal-hal dalam pemerintahan selepas Proklamasi 1945, harus dibuat dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Aku yang tak terbiasa melangkah sendiri, kali ini harus mampu hanya diberi petunjuk dan pesan hati-hati dari mereka yang menyemangatiku berlari, meski kami sama-sama tak tahu pada apa dan kapan aku boleh berhenti. Jangan salah, ini tak hanya berlaku bagi pilihan besar seperti suaraku di pemilihan kepala daerah atau kelanjutan mimpiku untuk kembali bersekolah, tapi juga hal-hal yang remeh temeh bagi sebagian orang. Juni membelitkan kabut di hadapanku untuk mengajak berlari dengan percaya diri dengan tetap berhati-hati.

Terakhir, berlari bukan satu-satunya agenda yang disiapkan Juni. Aku merasa diminta baik-baik untuk menepi sebelum hari berubah gelap. Senja beberapa kali mengambil alih dengan meminta perhatian ditatap tanpa interupsi lain, membiarkan hal-hal lain sekejap mengendap. Beberapa hal yang benar-benar menyenangkan atau penting, dibiarkannya ikut bersamaku kala jingga merayap. Juni dan senja tahu bagaimana aku harus mengatur napas agar tak terlalu menjumpai pengap. Bagiku, senja yang kerap terburu-buru pulang dan malam yang memanjang adalah waktu yang menghadirkan dua kesempatan, belajar berjalan dalam gelap atau sekalian saja terlelap. Keduanya telah ku coba dan tak begitu buruk juga. Jadi mari kita lihat Juli ini akan menampilkan apa.

Perayaan Cap Go Meh Singkawang : Bersiap Membersihkan Kota dari Marabahaya

0

Cerita ini akan menjadi bagian kedua setelah bagian pertama saya bercerita bagaimana menikmati pawai lampion di Singkawang. Silakan bagi yang belum membaca seklumit ceritanya, ada di sini ya. Kenapa harus ada banyak bagian? Karena Singkawang dan perayaan Cap Go Mehnya punya makna lebih dari sekadar wisata dan hiburan. Sayang kalau hanya tersimpan dalam ingatan sendiri, mudah lupa dan tak bisa saling mengingatkan.

Salah satu rombongan pengantar Tatung di depan gerbang Cap Go Meh

Di pagi hari setelah pawai lampion, ternyata Singkawang masih melanjutkan keriuhannya. Ketika saya bersama enam teman lainnya tiba di kota sekitar jam 10.00 WIB, ruas-ruas jalan kota sudah dipadati berbagai rombongan. Baik mereka yang berjalan kaki maupun menaiki truk terbuka. Rupanya, pagi itu adalah saatnya para Tatung ‘turun gunung’. Mereka mengadakan ritual Cuci Jalan sebelum hadir di puncak acara keesokan harinya. Ritual ini dimaksudkan untuk membersihkan kota dari hal-hal negatif sekaligus agar semua yang ada diberikan keselamatan.

Salah satu Tatung yang memohon restu kepada Dewa

Meski rombongan dari berbagai yayasan atau komunitas ini tersebar di seluruh kota, ternyata ada satu Vihara yang menjadi pusat kegiatan Cuci Jalan. Vihara Tri Dharma Bumi Raya, namanya. Seluruh Tatung dan naga yang terlihat memeriahkan acara bergantian bersembahyang di Vihara ini. Konon, ini karena Vihara Tri Dharma atau yang dikenal oleh warga lokal dengan nama Toapekong merupakan Vihara tertua di Singkawang. Sehari sebelum acara Cap Go Meh di Singkawang berlangsung, Vihara ini sibuk sejak pagi hingga malam hari. Para tatung datang untuk meminta restu agar roh dewa atau leluhur dapat hadir melalui tubuh mereka.

Selama proses meminta restu ini dijalankan, petugas Vihara beberapa kali menabuh bedug besar berwarna merah dan lonceng sebagai ungkapan kepada Dewa agar hadir di tempat tersebut. Bedug ini juga ditabuh ketika adzan dzuhur berkumandang dan semua iring-iringan tatung berhenti sementara. Hal ini ternyata, sebagai bentuk toleransi kepada warga muslim yang akan menjalanakan ibadah solat. Melihat pemandangan ini, hati saya hangat dan paham mengapa Singkawang selalu masuk ke dalam urutan tiga teratas kota paling toleran di negeri ini. Pun, ketika Vihara ini sedang sibuk-sibuknya, saya dan teman-teman yang ingin mengabadikan prosesi ini dari dekat tetap diperbolehkan dengan senyum dan tangan terbuka. Bahkan, beberapa pengelola Vihara tak segan menjawab keingintahuan saya tentang berbagai hal mengenai tempat dan ritual yang baru pertama kali saya datangi. Mereka yang memaklumi ketakutan saya akan pandangan kosong tatung, mempersilakan saya merapat di sudut yang aman sehingga tetap bisa mengamati dari dekat tanpa perasaan cemas.

Suasana di depan Vihara Tri Dharma Bumi Raya

Di luar Vihara, bau dupa tetap pekat di udara dan kertas doa berterbangan di teriknya Singkawang ketika proses ini dijalankan. Karena para tatung yang telah mendapat restu dari leluhur atau dewa kembali berkeliling kota. Selain untuk membersihkan kota dari berbagai hal yang mengundang bahaya, rombongan juga mengantar tatung yang belum memperoleh restu ke vihara-vihara selanjutnya agar keesokan harinya bisa menjalankan pawai dengan lancar. Hal ini dikarenakan dalam satu rombongan bisa terdapat lebih dari lima tatung dan tak semua ‘bertemu’ dengan roh leluhur di tempat yang sama. Antusias warga, baik yang menetap atau sedang pulang ke kampung halaman tak bisa disembunyikan. Meskipun proses ini dijanlankan setiap tahunnya, mereka tetap rela berpanas-panas menyaksikan persiapan puncak acara yang menjadi kebanggan kota.

Perayaan Cap Go Meh Singkawang: Penerimaan di Pawai Lampion

2

Rabu (28/2) menjadi penghabisan bulan yang semarak di Singkawang, sebuah kota kecil yang berjarak 3 jam Pontianak, Kalimantan Barat. Di langit yang menuju purnama, manusia dengan berbagai asal, suku, dan usia tumpah ruah sepanjang Jalan Firdaus hingga Jalan GM Situt. Pawai Lampion dalam rangka perayaan Cap Go Meh adalah sebabnya. Sebelumnya ketika langit masih berwarna senja, acara ini dibuka dengan ritual “Buka Mata Naga” oleh salah satu Tatung.

Sayangya, saya baru bisa menginjakkan kaki di kota ini pada saat semua orang sudah mengambil posisi strategis menonton pawai. Gawat, saya akan kehilangan banyak momen berharga, pikir saya ketika berusaha menyelip kerumunan. Saya juga mau punya bukti foto dan video bagus, dong.

Riuh Suasana Pawai. Foto Milik mas Vega

Ternyata setelah semakin lama berada dalam kerumunan manusia, saya menyadari saya tidak bisa mengidentifikasi perbedaan di sini. Tak ada beda turis ataupun warga lokal. Mereka yang berbicara bahasa Melayu pun terlihat serupa dengan pengguna bahasa Khek atau Jawa. Semua sama, melambai kegirangan setiap mobil hias yang membawa lampion dan pemerannya melintas di depan mereka.

Mobil Hias Ako dan Amoi Singkawang. Foto Milik Kak Reivo
Amoi Singkawang Ikut Pawai Lampion. Foto kak Reivo
Senyum tipis dari pemudi Dayak. Foto oleh Catatan Backpacker

Antusias ini tak berubah sejak barisan pawai dibuka dengan Naga dan mobil hias walikota, hingga barisan paling belakang. Ketika saya mencoba berjalan searah dengan bergeraknya mobil peserta, penonton dari hulu ke hilir kompak melambai, tersenyum, dan menyapa. Lampion-lampion yang disusun bervariasi di tiap mobil hias peserta, mempertajam suka cita dan senyum yang terlihat sepanjang acara.

Lampion dan Senyumnya sama Indah. Foto kak Reivo
Senyum yang tetap sama indahnya. Foto milik Catatan Bacpacker

Ternyata untuk berbahagia, cukup dengan menyadari bahwa kita adalah manusia. Entah akan seberbeda apa kita antara satu dengan lainnya. Tak usah takut membagi senyum pada ia yang tak dikenal atau terkenal, hanya lakukan saja. Sesuai namanya, Pawai Lampion benar-benar berisi pelita yang memberi pelajaran sekaligus perayaan bagaimana menjadi manusia.

error: Content is protected !!