Cahaya Buatan dan Undangan pada Kepunahan

0
27

Kita mungkin telah mendengar banyak hal yang bisa menjadi ancaman bagi lingkungan. Sampah, gas buang hasil pembakaran, bahan kimia sintetis, dan kali ini cahaya. Saya sempat membatin, “manusia salah lagi nih? Padahal sejak awal kehidupan cahaya sudah ada lewat benda-benda langit.” Ternyata memang iya! Cahaya buatan yang dikembangkan semenjak manusia mengenal api hingga hari ini memiliki banyak resiko. Polusi cahaya sebutannya. Seperti semua jenis polutan, cahaya buatan dikatakan menjadi polusi ketika jumlah cahaya alami yang bisa sampai ke bumi menurun karena tingginya intensitas cahaya buatan.

Deteksi mudah polusi cahaya di sekitar kita adalah dengan mendongakkan kepala ke arah langit ketika malam, terutama pada cuaca cerah. Seberapa banyak bintang yang bisa tertangkap mata di titik pengamatan kita? Teman-teman yang hobi ke pantai atau gunung pasti memasukkan ritual ini setiap kali mereka berlibur, termasuk saya. Soalnya daerah perkotaan yang biasanya dimandikan cahaya siang malam sudah menyilaukan. Mata kita jadi cenderung selalu tertuju pada lampu warna-warni dan layar ketimbang langit yang jadi berwarna muram dan redup.

Cahaya buatan yang jauh lebih terang membuat banyak perubahan pada perilaku dan keadaan lingkungan. Manusia bisa beradaptasi mungkin karena digadang-gadang punya volume otak yang lumayan dan mengalami proses belajar. Adaptasi ini termasuk mengontrol jumlah cahaya yang masuk ke dalam mata. Sayangnya, kemampuan ini tidak dimiliki banyak makhluk hidup lainnya, terutama binatang-binatang nokturnal yang aktif di malam hari. Ngengat salah satu contohnya. Serangga terbang saudara kupu-kupu yang aktif di malam hari ini sejak dulu bergerak dengan mengikuti arah datangnya cahaya bulan.

salah satu jenis ngengat, Arctia caja (sumber gambar di sini).

Mata ngengat dirancang Tuhan seperti teleskop, sedikit saja cahaya dari bulan mampu mengarahkan mereka ketika bergerak. Tapi kan sayangnya jangankan bulan sabit, bulan purnama bulat utuh pun sering kalah terang saat ini dengan lampu di jalan atau sebuah bangunan. Perubahan ini membuat si ngengat ini akhirnya terbang lurus ke arah lampu lalu berputar-putar kebingungan.

Pernah liat kan ketika ada segerombolan ngengat mendekat ke lampu, mereka tidak akan berhenti berputar sampai lampu kita matikan? Biasanya jika didiamkan banyak juga yang akhirnya jatuh menggelepar dan mati. Sebabnya, panas yang dihasilkan dari cahaya buatan seperti lampu akhirnya bisa merusak sayap, kaki, dan anntenanya. Keadaan ini bukan cuma mengubah perilaku terbang ngengat, radiasi tinggi dari cahaya buatan juga bisa membuat frekuensi kawin ngengat betina menurun bahkan sampai keadaan mandul. Tidak berhenti pada tahap ngengat dewasa, cahaya buatan dalam intensitas rendah bisa mengurangi umur dan berat ngengat di tahap pupa dan larva khususnya pada ngengat jantan. Jantan dan betina sama-sama bisa mengalami kecacatan perkembangan, lalu populasi baru dari ngengat akan berasal darimana?

Ngengat jadi penting sebagai hewan nokturnal karena salah satu perannya dalam lingkungan adalah sebagai penyerbuk bunga di malam hari. Hewan kecil ini bahkan membantu penyerbukan bunga-bunga yang tidak didatangi kupu-kupu, lebah, atau burung di pagi dan siang hari. Adanya ngengat juga bisa di suatu habitat juga dapat menandakan kesehatan lingkungan tersebut, karena ngengat bisa bertindak baik sebagai predator maupun mangsa dalam rantai makanan. Satu bagian dari rantai ini mengecil jumlahnya, sudah pasti akan mempengaruhi hewan-hewan lainnya, bisa ditandai dengan munculnya hama atau berujung pada kepunahan berantai.

Sejauh ini, ngengat memang salah satu serangga yang memiliki keanekaragaman jenisĀ  sangat tinggi, di Britania Raya saja diperkirakan ada 2500 jenis ngengat. Angka yang masih cukup besar ya? Sayangnya, semenjak 1968 atau pada saat industri listrik dan teknologi mulai berkembang di sana, terjadi penurunan populasi ngengat secara umum sebesar 28%. Polusi cahaya memang satu dari beberapa faktor yang mempengaruhi hal ini, tapi tak ada salahnya juga kan kalau kita bisa melakukan usaha mandiri utuk mengurangi besaran polusi cahaya untuk memperkecil dampaknya? Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah:

Lampu dengan rudung pelindung (sumber gambar di sini)
  1. Matikan atau kurangi sumber cahaya di tempat-tempat yang memang tidak digunakan untuk beraktivitas atau kita tinggalkan untuk tidur atau bepergian. Lumayan kan jadi hemat energi?
  2. Berikan tudung atau penutup pada lampu penerang jalan, sehingga jejak cahayanya terlihat di permukaan tanah tetapi sumber cahayanya tetutupi dan tidak terbuang ke arah langit dan menyebabkan polusi.
  3. Tanam pohon di sekitar lampu penerangan jalan untuk mengurangi pantulan cahaya ke arah langit, jangan lupa atur jarak agar jalan tetap terlihat di malam hari tanpa melepaskan banyak polusi.

Cara-cara di atas bisa diterapkan di berbagai lingkungan, dari mulai skala rumah tangga, sampai industri periklanan. Kalau kepedulian ini dijalankan dan diturunkan lewat pendidikan, bukan hanya ngengat yang bisa diselamatkan. Berbagai fenomena ketidakseimbangan ekosistem juga mulai bisa diperbaiki pelan-pelan dan berkelanjutan.

Sumber bacaan: dari sini, sini, ini juga, yang ini, dan ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here