E dan Lampu Jalanan

Lampu jalan

Dia yang mengajari saya  bagaimana mencintai kota ini dengan berfokus pada titik paling lain. Ketika orang-orang menggunakan daya tarik makanan, bangunan, gunung, sampai lautan; dia kerap mengarahkan kendaraannya di sekitar kota. Awalnya saya pikir ini karena dia juga seperti saya waktu itu—mahasiswa baru.

Mari panggil dia E. Suatu waktu di atas kendaraannya yang membawa kami berdua, dia menunjuk ke arah atas dengan dagu. Saya pikir dia melihat hantu. Ternyata lampu. Tak ada kota lain yang punya lampu jalanan seperti di sini, katanya bertahun-tahun lalu. Saya menanyainya lebih jauh, menanyakan apa yang matanya tangkap segitu istimewa.

Suaranya terbawa angin sambil menjelaskan. Saya tak begitu mendengar kalimat lengkap  yang diucapkannya. Namun saya menangkap kata kuning, hangat, dan kotak kaca berumur tua. Lalu, satu saja balasan kalimat saya,

“Lampu-lampu di kota ini romantis, begitu ya maksudmu?”

Lantas dia memelankan laju kendaraan dan mengangguk. Dia lalu bilang, seandainya pun ada kota yang ingin menirunya—dan pasti ada—tak akan ada yang berhasil. Malah itu hanya akan membuatnya jauh lebih rindu pada kota yang saat ini sudah delapan tahun saya huni.

Cukup malam itu saja dia memberi tahu saya bagaimana mencintai kota ini dan mengamini kata istimewa yang lekat di sini. Sebuah seni mencintai yang aneh dari orang yang sebenarnya jarang bermalam di sini. Namun mungkin begitulah caranya memaksa seluruh indra bekerja di tiap-tiap kunjungan singkatnya.

Begitulah, satu dari sekian banyak cara dia merawat ingatan saya akan kehadirannya. Pasti bukan udara yang harus saya hirup, tapi tak bisa saya hindari berlama-lama. Hehe, dasar culas.

Namun, sudah sejak lama dia enggan ke Jogja—bahkan saat saya wisuda. Terlebih saat dia harus berangkat dari tempat yang lebih jauh dari saat malam ketika dia “mengangkat dagu”. Jangan kira saya hanya melempar kode-kode berwarna kelabu yang sulit diterka. Saya kerap memintanya dengan lantang untuk menentukan tanggal. Atau, setidaknya bulan.

Pokoknya, kalau tak meminta jawaban kapan, saya sibuk bertanya mengapa. Sulit sekali mengorek alasan darinya. Kalau dia tak menginginkan saya, seharusnya kami tak bertemu di kota lain, kan? Sekali lagi, E hanya tak mau ke Jogja.

Baru setelah saya lebih sering mendongak malam-malam, saya tahu jawabannya. Lampu  jalanan satu persatu mulai ganti warna. Neon putih menyilaukan, yang kerap menakuti kelelawar dan menjemput ajal para laron di awal musim hujan. Mungkin sebagai anggota mamalia seperti kampret atau kalong, dia memilih menjaga jarak.

Makin ke sini, permasalahan lampu jalanan ini bukan hanya jadi menyilaukan pengendara. Lampu-lampu yang berjarak selemparan batu dari rumah indekos saya juga mulai padam. Kadang, hidup lagi. Ya, kemudian lebih sering tidak.

Apalagi sejak pandemi datang dan peraturan-peraturan ajaib mulai diterapkan. E pasti melihat berita penerangan jalan di sini berhenti di pukul delapan malam. E, kalau kamu baca ini, saya sempat menangis kesal di jalanan saat pertama kali melihatnya. Saya saja patah hati, apa lagi kamu, ya.

Berhenti, tak ada nyala. Bertahun-tahun lalu saja E ribut untuk mengganti lampu depan kendaraannya di minggu malam selepas mengantar saya. Padahal saat itu jalanan Jogja hingga tempatnya tinggal diterangi lampu berbagai rupa.

Mungkin begitu, akhirnya E memutuskan tutup pintu pada suatu tempat yang gelap gulita. Satu-satunya pendar, yang biasa menuntunnya dengan hangat, hilang. Apa lagi yang bisa diandalkan?

Tak ada yang mau hidup dengan menentang bahaya yang jelas-jelas bisa dihindari.

Saya berusaha sekuat tenaga, dan rasa, untuk memakluminya. Pasti berat jadi E, ia tak mungkin merelakan dirinya sejenak saja ke sini menemani saya. Saya tahu seberapa kuat gelap memancing gelisah meliar dari kandangnya. Dia bisa saja tak selamat.

Jadi kalau Jogja di matanya tak lagi menyandang sebutan istimewa, ya apa lagi saya. Seharusnya saya tak pernah punya hak memintanya datang, apa lagi bersusah payah hendak menjelaskannya. Rasa kecewa itu bisa datang hanya dengan sekali kepala digerakkan.