Donor Darah: Wujud Mimpi Badan Sehat di Masa Depan

"Tidak bisa, mbak. Hb-nya kurang." Ujar seorang petugas dengan suara yang pelan dan terdengar lesu.

0
35
blood donation mechanism
ilustrasi donor darah (freepik.com)

“Tidak bisa, mbak. Hb-nya kurang.” Ujar seorang petugas dengan suara yang pelan dan terdengar lesu.

Saya jadi ikut lesu mendengar infromasi yang disampaikannya. Saya sempat melemparkan pandangan memelas, tapi sadar tak ada gunanya. Jika saya memaksakan diri menjadi pendonor, mungkin setelahnya saya akan ditransfusi balik. Padahal kebutuhan darah selama pandemi ini jauh meningkat karena pendonor darah tak bisa mendonorkan darahnya, entah karena masih takut atau kondisi tubuh yang tidak memungkinkan. Kalimat penolakan tadi adalah kalimat kedua yang saya terima, setelah sebelumnya tekanan darah pun kurang dari syarat minimal. Beberapa teman dan kenalan yang usianya tak terpaut jauh dari saya juga bercerita, pernah ditolak berkali-kali sebelum akhirnya mampu mendonorkan sekantung darah mereka.

Meski ‘baru’ dua kali ditolak, sebenarnya saya sudah berkenalan dengan kegiatan donor darah sejak masih di bangku SD. Awal mulanya, saya menemukan sebuah kartu yang dilipat di dalam tas kerja bapak. Kartu itu kartu tanda donor darah katanya, ada tanggal dan tanda tangan petugas yang dibubuhkan setiap kali bapak selesai mendonorkan darahnya. Pikir saya waktu itu, jika bapak saja bisa beberapa kali melakukannya setiap beberapa bulan, berarti kegiatan ini mudah. Saya tentu ingin, apalagi bapak bilang pendonor tetap akan mendapat penghargaan setelah belasan atau puluhan kali donor.ย  Belum lagi kebutuhan darah bagi pasien rumah sakit selalu banyak. Bapak bilang, saya harus tunggu paling tidak hingga usia 17 tahun untuk boleh mendonor.

Tahun demi tahun sebelum akhirnya 17, saya belajar banyak hal tentang darah dan aktivitas ini. Tapi saya memang belum pernah ke PMI langsung waktu itu. Sebabnya, dari beberapa syarat saja saya sudah gagal meskipun umur saya cukup. Saya baru mencapai berat minimal ketika usia 20-21 tahun. Mimpi itu pun dengan sendirinya agak terkubur, karena tak ada lagi orang sekitar saya yang rajin melakukan donor darah setelah bapak diberhentikan dari tempat kerjanya yang dulu rutin mengadakan agenda ini. Beberapa kali kesempatan saya bisa mengecek tekanan darah pun tak pernah lebih tinggi dari 120/80 mmHg, standar minimal tekanan darah normal pada manusia dewasa. Berat badan, kadar Hb, dan tekanan darah jadi 3 syarat utama selain usia. Kegiatan donor darah yang sering ada di acara-acara kampus pun saya lewatkan. Padahal kan lumayan ya bingkisannya untuk anak kost seperti saya.

Semakin banyak saya tau bahwa tubuh saya ini tidak mampu memenuhi syarat awal donor darah, saya semakin menyadari ada ketidakberesan dalam tubuh saya. Meskipun masih bisa beraktivitas normal, saya mudah sekali mengantuk di waktu pagi dan siang. Rambut saya mudah rontok dari akarnya, siklus menstruasi saya kerap didahului dengan berbagai gangguan, dan aktivitas berpindah meski dalam intensitas rendah sudah membuat saya berkeringat. Mungkin ada faktor genetis yang berperan, tetapi pola dan gaya hidup saya menandakan jauh dari kata sehat. Titik kesadaran ini hadir penuh ketika saya menangis karena kesulitan mencari sayur sebagai menu makanan di warung sekitar kos 5 tahun lalu. Padahal jika di rumah, saya kerap menolak makan sayur yang dimasakkan oleh ibu. Duh!

Apa saya langsung berubah ketika sadar? Ya Tidak! Apalagi biasanya yang ‘jahat’ itu enak. Makan makanan ringan banyak garam, minum manis setiap kali makan di luar, begadang, melewatkan sarapan, tidak mau olahraga, dan jarang jalan kaki. Semua yang seharusnya saya lakukan untuk memperbaiki keadaan hanya sekali dua kali dijalankan jika ingat. Setelahnya, saya merasa sudah lebih sehat. Nyatanya kan masih jauuuh, sampai tahun ini saja saya ditolak dua kali.

Tapi tolong, jangan bilang saya menyerah. Saya mau berusaha memenuhi segala syarat demi bisa lancar melakukan donor darah rutin di hari-hari depan. Pasalnya, dalam dua kali penolakan itu justru dua orang yang menemani saya yang justru mampu melakukan donor pertama mereka. Ya tentu iri, dong. Mimpi itu akhirnya bangkit lagi. Donor darah akan saya anggap sebagai penanda pertama dan utama bahwa saya berhasil hidup sehat. Terserah kalau saya belum mampu lari atau bersepeda belasan atau bahkan puluhan kilo sekali jalan, saya masih bisa terima kalau belum bisa berenang dengan lancar, saya oke belajar masak untuk tau komposisi bahan pangan yang saya konsumsi dan mengurangi kuota jajan. errr… dan saya bisa kok ngga takut-takut amat sama jarum suntik sambil jalan memebenahi diri. Jadi setelah lewat meja pendaftaran, saya janji tidak akan putar balik atau menjerit. Oh! Saya juga janji akan melanjutkan cerita ini ketika satu kantung 300-500ml selesai saya donorkan.ย  Tunggu, ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here