Hujan (kabut dan senja) di Bulan Juni

0
662

 

Seorang penyair pernah menasbihkan, hujan di bulan ini adalah tetes paling tabah. Aku tak sepenuhnya menolak atau setuju, sebab ada yang lebih tabah dibanding limpasan air langit itu. Orang—orang terdekatku yang bertakdir membawa kebun bunga di dadanya dan membuat sekitarnya hangat, persis musim panas. Aku tak bercanda atau bermaksud mencela, bukan dalam maksud memuji juga. Mereka pasti akan jumawa membaca pembuka ini, padahal tulisan ini salah satu hasil belajar dan berdekatan selama bertahun-tahun dengan mereka meski tanpa pertalian darah.

Kepada Juni, aku berterima kasih untuk menghadirkan kesempatan orang-orang ini ada, mereka yang mendukungku tentu saja. Sejak waktu ke waktu, pertengahan tahun memang tak pernah ku lewati dengan biasa saja. Kali ini, Juni mengajak berlari, salah satu kegiatan yang tak pernah mahir ku lakukan. Tapi sudah ku bilang, kan? Aku beruntung dikelilingi mereka yang menjadi tuan rumah di awalan musim kemarau ini. Oh, aku lupa bilang Juni seringkali adalah waktu terbaik bagiku jatuh cinta, meski beberapa di antaranya harus dikisahkan dalam bentuk hati yang patah.

Di bawah bulan Ramadan dan Syawal serta rasi bintang Gemini-Cancer kali ini, ada rutinitas yang tak banyak berubah. Biar ku ceritakan sedikit, ada lebih banyak ucapan dan doa-doa baik yang ku alamatkan satu-satu kepada mereka yang setahun lagi genap berkisah dan masih mau menemaniku. Tahun ini bahkan jumlahnya bertambah. Aku bersyukur masih bisa mengulang doa yang sama kepada mereka yang bertahun-tahun mau mengamini dan menambahkan beberapa yang baru. Selain gugus bintang, tentu saja bulan suci lah yang menjadikan aku bertemu lebih banyak lagi wajah dan kabar. Ini seperti pembayaran Juni sebelumnya, yang sengaja aku lewatkan dengan menutup muka karena tanggung jawab memakan waktu lebih lama untuk diselesaikan. Aku hampir berprasangka mereka tidak lagi menghitungku dalam kerumunan. Tetapi ternyata keberadaanku masih dicari dan beberapa nama menyuarakan rindunya terang-terangan. Aku dihujani rintik yang sengaja datang untuk membangkitkan petrichor dan daya berlari lebih laju.

Juni ini tak hanya datang dengan terik seperti seharusnya dan hujan sebagai anomali, baik secara harfiah maupun prasangka. Bagiku, kali ini Juni sengaja datang dengan kabut lebih pekat di usiaku yang tak lagi bisa dibilang remaja. Kini pilihan tak lagi berwarna hitam putih atau merah biru dan tak hanya berpintu satu, sebab semakin banyak sisi yang harus ku lihat sendiri. Keputusan-keputusan ini berlagak seperti hal-hal dalam pemerintahan selepas Proklamasi 1945, harus dibuat dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Aku yang tak terbiasa melangkah sendiri, kali ini harus mampu hanya diberi petunjuk dan pesan hati-hati dari mereka yang menyemangatiku berlari, meski kami sama-sama tak tahu pada apa dan kapan aku boleh berhenti. Jangan salah, ini tak hanya berlaku bagi pilihan besar seperti suaraku di pemilihan kepala daerah atau kelanjutan mimpiku untuk kembali bersekolah, tapi juga hal-hal yang remeh temeh bagi sebagian orang. Juni membelitkan kabut di hadapanku untuk mengajak berlari dengan percaya diri dengan tetap berhati-hati.

Terakhir, berlari bukan satu-satunya agenda yang disiapkan Juni. Aku merasa diminta baik-baik untuk menepi sebelum hari berubah gelap. Senja beberapa kali mengambil alih dengan meminta perhatian ditatap tanpa interupsi lain, membiarkan hal-hal lain sekejap mengendap. Beberapa hal yang benar-benar menyenangkan atau penting, dibiarkannya ikut bersamaku kala jingga merayap. Juni dan senja tahu bagaimana aku harus mengatur napas agar tak terlalu menjumpai pengap. Bagiku, senja yang kerap terburu-buru pulang dan malam yang memanjang adalah waktu yang menghadirkan dua kesempatan, belajar berjalan dalam gelap atau sekalian saja terlelap. Keduanya telah ku coba dan tak begitu buruk juga. Jadi mari kita lihat Juli ini akan menampilkan apa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here