Membaca Ulang Catatan Petualang Sepanjang Jogja Hingga Magelang

0
582
Diskusi Panel/tim liputan genpi

Nusantara dikenal karena rempah-rempahnya dan menjadi rebutan bangsa-bangsa mancanegara. Itulah sejarah yang saya hapal mati sejak masa Sekolah Dasar (SD). Ternyata ada catatan sejarah yang jauh lebih tua dan datang dari abad ke-7, tentu sebelum Eropa tiba.

Yi Jing, Sang Pengelana yang gemar berpetualang jauh, justru terkagum-kagum dan mencatat bahwa di Nusantara telah berdiri pusat pembelajaran yang di masa kini mungkin setara dengan universitas. Siapa sangka, beratus tahun kemudian, tempat yang disinggahi Yi Jing ini kita kenal dengan sebutan Pulau Sumatera.

Pidato Pembukaan oleh Prof. Mudji Sutrisno/ tim Genpi

Catatan-catatan petualangan ke Nusantara, ternyata bukan hanya ditulis Yi Jing semata. Ada kisah dari Ibnu Batuta hingga Raffles yang ditampilkan dalam Borobudur Writer and Cultural Festival (BWCF) 2018. Ada panel-panel diskusi yang dipimpin langsung oleh banyak peneliti atau penulis buku seputar pengelana asing. Mereka mengabdikan diri puluhan tahun untuk menyusun keping puzzle yang masih berserakan tentang potret Nusantara yang sesungguhnya.

Pembicara Borobudur Writers and Cultural Festival/tim genpi

Jadi bukan hal yang aneh bila mereka, para narsum dalam panel-panel diskusi, berasal dari generasi yang cukup senior dan disegani. Hal yang menyenangkan datang dari peserta yang hadir. Banyak di antara mereka adalah mahasiswa, bahkan siswa SMA, dan berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Peserta yang hadir juga berasal dari berbagai kalangan dan bidang keilmuan, seperti seni, sejarah, sastra, hingga biologi.

Peserta Berbagai Latar Belakang di BWCF

Acara Borobudur Writer and Cultural Festival (BWCF) tahun ini mengambil tempat di dua provinsi sekaligus. Pembukaan acara tahunan yang ke-7 ini berlangsung di Kota Yogyakarta, kemudian dilanjutkan di kompleks Candi Borobudur, Kabupaten Magelang. Agenda ini menjadi menarik karena peserta dan tamu undangan bisa menikmati dua suasana berbeda selama 3 hari rangkaian kegiatan.

Bukan hanya itu, Borobudur Writer and Cultural Festival (BWCF) juga memberikan kesempatan bagi wisatawan atau warga lokal yang kebetulan sedang berlibur untuk bisa menyambangi acara. Lokasi yang dipilih pun strategis, sehingga mereka yang tertarik bisa mengaksesnya dengan mudah dari bandara, stasiun, maupun terminal. Pada pembukaannya, ballroom Hotel Grand Inna Malioboro dipenuhi peserta yang bertahan hingga sesi terakhir.

Bukan Hanya Bahasa Tulis

Sesuai namanya, Borobudur Writer and Cultural Festival (BWCF) tidak hanya menyajikan diskusi buku-buku bergizi. Beberapa karya sebagai hasil budaya juga ditampilkan di sini, salah satunya adalah pembacaan puisi. Ada empat penyair dari tiga negara yang diberi panggung istimewa untuk membacakan karyanya. Mereka berasal dari Indonesia, Malaysia, dan seorang India yang menetap di Singapura.

Pertunjukan Tari Kontemporer BWCF

Warna dalam masing-masing puisi juga didukung dengan pagelaran tari kontemporer dari koreografer yang telah malang melintang di berbagai pementasan. Pada siang harinya, ada workshop dongeng bagi anak-anak di sekitar Borobudur dan peserta yang terbangkitkan nostalgianya serta membuka banyak imajinasi untuk menyampaikan pengetahuan dan nilai-nilai kebaikan.

Ragam budaya tradisional juga tak tertinggal untuk dihadirkan guna mewarnai Borobudur Writer and Cultural Festival (BWCF) 2018. Pada pembukaan, grup Nusa Tuak yang mengusung permainan Sasando, berhasil membius siapa pun yang hadir untuk mendengarkan mereka bermusik.

Rapai Geleng, Kom Saleum Aceh

Tak mau kalah, sajian Rapai Geleng, Kom Saleum Aceh di hari kedua juga membuat peserta dari berbagai usia dan kalangan mengangkat telepon genggam dan kamera untuk mengabadikan pertunjukan penuh semangat yang ditampilkan anak-anak muda itu. Pertunjukan yang masih membuat saya bertanya-tanya ketika menulis ini adalah Wayang Cing Cing Mong dari Orkes Madekur dan Sarkuni. Acara ini sengaja disimpan oleh panitia sebagai hadiah penutupan BWCF nantinya.

Kamu ingin tahu juga? Mari bertemu di BWCF 2018 dan menarik garis ke belakang untuk melukiskan corak bangsa ini sejak zaman dahulu kala. Oya, siapkan uang juga, karena ada banyak penerbit dengan buku-buku menggiurkan yang menggoda untuk dibawa pulang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here