Menentukan Langkah Sebelum Jengah

0
506

Berada di zona akhir tapi belum juga sampai di garis finish rasanya seperti menanggung beban berkali-kali lipat lebih berat, akui saja. seluruh semesta rasanya berisi tanda tanya, bahkan juga di dalam kepala. Iya kan? Oke maaf, saya malah menambahinya. Padahal salah satu tujuan saya menuliskan ini adalah untuk memberi selamat. Selamat karena kamu mau berjuang sampai satu perjalanan hampir usai dan menampung sekian banyak tanya dengan teramat kuat.

Ucapan selamat ini tulus dari hati saya. Hati yang pernah terpecah belah dan hampir menyerah padahal garis akhir benar-benar di depan mata. Saya yang tidak digembleng oleh berbagai macam jenis perlombaan dan penelitian selama kuliah harus menyeret langkah demi selesainya 8 SKS terakhir yang saya punya. Bila di logika, seharusnya 130an lebih kredit kuliah di tujuh semester sebelumnya lebih dari cukup sebagai bekal, itu yang dikatakan dosen-dosen saya juga. Nyatanya saya butuh waktu lebih lama.

Tentu saja hal ini sejalan dengan semakin banyaknya kalimat tanya yang mengudara. Salah satunya, “Setelah ini kamu mau apa?”. Pertanyaan ini menjadi bara yang cukup panas untuk mempercepat atau justru memperlambat jalan. Beberapa teman saya yang bisa menjawab mantap, biasanya tak berlama-lama menjadi mahasiswa atau bekerja di satu tempat yang sama. Sayangnya, saya termasuk pernah menjadi golongan kedua yang tidak tahu harus menjawab apa saking semua ruang di dalam pikiran adalah kebuntuan. Hasilnya bisa ditebak, saya jadi ‘betah’ melabelkan diri sebagai seorang mahasiswa.

Setelah puluhan kali ditanya dan menanyai diri sendiri pada akhirnya saya punya beberapa jawaban. Saya melontarkan keinginan untuk jalan-jalan tanpa terganggu rutinitas, pulang ke kampung halaman lalu bekerja, hingga kembali masuk ke dunia perkuliahan. Jawaban-jawaban ini saya urutkan dari frekuensi terbesar yang pernah saya berikan. Tapi semakin dekat dengan kelulusan, jawaban terakhir adalah yang paling sering saya ucapkan sambil menambahkan dengan permintaan do’a. Padahal di waktu yang sama, saya mensyaratkan diri sendiri akan berkuliah lagi jika adik perempuan saya sudah sarjana dan berkuliah dengan biaya yang saya punya.

Jawaban-jawaban seenak jidat tanpa rencana matang milik saya kemudian dipertemukan dengan banyak sekali rasa percaya yang bahkan saya tak punya. Saya mendapat do’a sungguh-sungguh sampai kiat-kiat menjadi mahasiswa di tingkat selanjutnya di pertemuan pertama. Waktu itu saya hanya bisa menanggapinya dengan kata iya sambil tertawa-tawa. Lha wong, saya menjawab agar tak menumpuk lebih banyak tanya di kepala. Kan malah enak didoakan hal baik spesifik oleh banyak orang. Bahkan sejauh yang saya ingat, pembahasan ini jauh lebih sering ketimbang persiapan memasuki dunia kerja. Padahal bekerja menjadi langkah ideal selanjutnya bagi kebanyakan orang juga di kepala saya pada awalnya.

Hari ke hari, saya juga mulai mengakrabkan diri dengan orang-orang yang langkahnya sudah jauh di depan. Sadar saya terlalu sering tersesat dan buta membaca arah kemudian bertanya kepada mereka yang sudah lebih dulu sampai di jalan yang mau saya tuju. Tujuan yang mulai terdeskripsikan ini membuat saya punya amunisi lebih banyak untuk bertanya ketimbang ditanyai lagi. Jawaban-jawaban ini kemudian saya kumpulkan untuk mengukur diri sekali lagi, seberapa perlu mengambil langkah ini.

Akhirnya setelah puluhan doa dikantongi, barulah saya berani melangkah pelan-pelan untuk menjelmakannya jadi nyata. Kenapa tak langsung menggebu seperti biasanya saya? Karena banyak juga suara ragu, sekali lagi juga berasal dari kepala saya. Kemudian di satu waktu, saya dibulatkan tekad dengan mengingat kembali perintah Tuhan pada sebuah ayat:

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,” (Q.S. Al-Insyirah: 8)

Meski masih jauh dari kata taat, ayat ini kemudian menyuntikan semangat. Apalagi masih di surat yang sama, ada janjiNya mendatangkan kesulitan bersama dengan kemudahan. Maka kemudian setelah tujuan selanjutnya ditetapkan dan sebelum saya semakin jengah tenggelam dalam pusaran, saya kembali ke permukaan. Berenanglah saya ke tepian sambil menjawab satu demi satu pertanyaan, terutama yang sejak lama berasal dari pikiran. Saya sampai tepat pada waktunya meski tak mencatatkan diri sebagai yang tercepat. Saya rasa kamu juga bisa keluar dari genangan, tenang dan bernapaslah lebih banyak dari biasanya. Ingat ini, kita adalah raja bagi masing-masing raga maka apapun tantangannya kita tetap penguasanya. Kalau ada yang perlu kamu bagikan, saya mungkin bisa menjadi telinga ketimbang kamu hanyut dalam belantara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here