Pelari Borobudur Marathon 2018 Sukses Bikin Iri

2
473
Lari di seputaran candi bikin iri!

Candi Borobudur tidak pernah hilang gagahnya sejak kali pertama saya bertandang. Bangunan peninggalan masa lalu ini masih terasa magis, begitu juga di pagi itu saat matahari bahkan belum menerangi. Siluet stupa yang ada seakan sudah menunggu saya dan ribuan orang yang akan berpartisipasi dalam ajang tahunan Borobudur Marathon 2018. Bukan tanpa sebab saya mendatangi acara ini, sejak beberapa hari saya sudah mendengar gaung acara ini di berbagai sosial media dan beberapa teman yang ikut menjadi peserta. Bahkan beberapa hari sebelum acara, beberapa spanduk yang dipasang panitia sepanjang lintasan lari menjadi viral dan menyita perhatian warga di dunia nyata dan maya.

Ternyata sesering-seringnya saya menjelajah sosial media dan membuka berbagai kanal berita di internet, saya masih kalah jauh dari 9.000an peserta Borobudur Marathon (BorMa) tahun ini. Mereka yang datang dari berbagai tempat di dunia terlihat tidak lagi asing dengan atsmofer acara dan lingkungan candi. Beberapa kenalan baru yang saya temui mengatakan, ini bukan BorMa mereka yang pertama tapi tetap saja binar mata mereka lebih menyala dibanding saya yang sebentar-bentar masih menguap lebar. Tentu siapapun yang ikut acara ini di dadanya pasti terselip bangga, karena tahun ini menjadi gelaran ke-7 dan sudah dikenal di berbagai negara. Pun mereka yang baru tahun ini berpartisipasi melangkah mantap menuju garis start di Taman Lumbini, Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Udara sejuk di kawasan Kabupaten Magelang pastilah juga menambah fisik peserta lebih siap karena paru-paru kami terisi udara bersih bebas polusi.

Peserta Full Marathon Memulai Perlombaan/genpi

Ternyata bukan hanya pelari, para panitia tentu tak kalah sibuknya. Kategori pertama, Full Marathon dimulai pada pukul 05.00 pagi. Jadi silakan bayangkan dari jam berapa semua bagian sudah sibuk wara-wiri? Tapi setiap kali saya mengamati para peserta yang berinteraksi dengan panitia, mereka sigap menjawab atau melayani. Para peserta ataupun keluarga yang ikut mendampingi mengapresiasinya dengan seulas senyum dan ucapan terima kasih. Panitia ini membantu keselamatan, kenyamanan, dan hasil peserta dengan profesional di area Candi Borobudur dan area sepanjang berpuluh kilometer jauhnya. Belum lagi sarana lengkap seperti toilet portable, pusat kuliner, sampai station pijat yang disediakan pihak sponsor. Oh satu lagi, spot foto 360° untuk para peserta pasti melengkapi kenangan ini.

Spot Foto 360 derajat Borobudur Marathon 2018

 

Borobudur Marathon yang dibuka dan diikuti oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo ini mengambil lintasan desa-desa di sekitar Candi Borobudur. Sepanjang rute lari, panitia juga memasang blue line selain spanduk berisi semangat dan guyon yang memancing senyum peserta. Blue line ini dipasang secara akurat dengan mengikuti standar internasional untuk memandu peserta mencapai garis finish secara efisien. Garis ini banyak dipakai pada perhelatan marathon bergengsi di dunia, dan Borubudur Marathon 2018 menjadi yang pertama membawa ini ke Indonesia. Sudah pemandangannya bagus, jalurnya diukur akurat, rutenya dipandu sekelas perhelatan dunia. Saya yang datang dengan beralaskan sandal gunung, hanya bisa melambaikan tangan dari seberang.

Gubernur Jawa Tengah Melepas Peserta Borobudur                               Marathon 2018

Setelah sekian menit berada di satu titik lintasan lari, saya memilih kembali ke area candi dan mendekat ke garis finish. Saya mau melihat wajah-wajah lelah bersimbah keringat para peserta yang berhasil menyelesaikan 42, 21, dan 10 km mereka. Saya sengaja melakukan ini, karena di dalam kepala niat untuk mengambil bagian di tahun depan mulai menyala sebab dari pagi banyak hal yang saya jumpai adalah hal-hal menyenangkan.

Senyum salah Satu Peserta Borobudur Marathon di Garis Finish

Ternyata saya salah! Justru banyak dari peserta yang datang sambil memasang wajah sumringah meski seluruh baju basah. Saya kira penyebabnya hanya hormon endorfin dan noradrenalin yang membanjiri kerja tubuh mereka dan melepaskan stres yang ada. Tapi setelah saya tanya dan saya intipi tagar di dunia maya, sepanjang lintasan mereka disapa dan dihibur warga sekitar. Anak-anak, remaja, hingga simbah-simbah menanti kedatangan tiap pelari dengan berbagai cara.

Penari Berkostum Daun yang Diabadikan Peserta

Mereka menampilkan tarian, melambai-lambai dan menyemangati pelari tanpa berkenalan, sampai suguhan air dan makanan kecil di beberapa titik jalan. Pantas saja banyak dari peserta tahun ini ‘naik kelas’ dengan berpindah kategori dan menempuh jarak lari yang lebih jauh, saya yakin salah satu alasannya ini karena jadi semakin banyak yang bisa mereka pandangi dan semakin banyak orang yang menyemangati. Begini caranya, bagaimana saya mau mundur kan? Saya bertekad berhenti iri tahun depan dan bergabung di lintasan lari!

Anak-anak yang Menyemangati Peserta

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here