Rindu Matahari di Kemarau Dieng

0
537
“Banyak hal lebih terasa berarti ketika kita telah kehilangan” – Anonim
Saya seringkali mengamini ungkapan ini ketika patah hati pada seseorang atau kehilangan barang kesayangan. Tapi ternyata, sebuah  benda langit seperti matahari bisa juga membuat saya merasa kehilangan, meski tetap mentereng di angkasa dan jarang saya perhatikan. Saya kehilangan matahari pada perjalanan musim kemarau yang membuat matahari bangun lebih percaya diri dengan sedikit awan yang berani mengelilingi.

Untunglah saya tak mengikuti prasangka sendiri untuk menyamakan kemarau Dieng dengan stereotype musim panas pada umumnya dan memilih mengikuti saran seorang teman. Benar saja, sepanjang perjalanan Wonosobo-Dieng suhu udara terus turun hingga tak pernah menyentuh 20°C. Sejak keberangkatan, saya sudah mengenakan dua lapis baju ditambah jaket yang biasanya saya gunakan untuk mendaki gunung. Setelah sampai di hostel dan menuju makan siang, saya bahkan memutuskan membeli sarung tangan di kios pinggir jalan. Matahari masih ada tapi rasanya Dieng sedang ingin memblokade panasnya.
Nah, buat kamu yang juga berkunjung ke Dieng dan butuh tambahan sarung tangan atau kaos kaki jangan ragu untuk membeli daripada menggigil ga karuan. Lha wong, warga Dieng juga beraktivitas luar ruangan dengan jaket tebal atau selimut kok. Di kios-kios kecil pun tak main getok harga, saya mendapat sepasang sarung tangan dengan harga Rp 10.000.
Perjalanan dua hari satu malam keliling Dieng dan sekitarnya bukan sama sekali tanpa matahari. Hanya saja, Dieng di pertengahan tahun baru mulai menghangat sekitar pukul 10 pagi hingga tengah hari. Itupun jika angin tidak sedang ingin bermain-main. Di hari pertama, saya dan teman-teman harus cukup puas menikmati sinar matahari di Telaga Merdada yang cantik. Saya bahkan berani melepas jaket ketika berkeliling di sini. Telaga ini tak cuma menawarkan pemandangan dari tepi, tetapi bisa juga dari tengah danau dengan menggunakan kano. Sayangnya, ternyata kita harus membuat janji terlebih dahulu, terlebih bila itu bukan hari libur. Jadi kalau kamu berasal dari tempat yang lumayan jauh seperti saya, salah satu alternatif caranya adalah dengan menggunakan jasa operator tur seperti juga yang saya gunakan.
Tetap berusaha senyum di tepi Telaga Merdada padahal sudah mulai menggigil biar baju udah lapis dua
Menjelang sore, kunjungan kami ke komplek Candi Arjuna harus disudahi dengan berlari-lari kecil saat kembali ke mobil karena gerimis datang. Rencana kami untuk berburu matahari terbenam di dataran tinggi ini juga bubar jalan pastinya. Padahal saya penasaran, sebab biasanya pucuk-pucuk daratan lebih sering didatangi untuk menjumpai matahari yang baru terbit. Kenyataan tak bisa menjumpai senja tak seberapa mengagetkan, dibanding perkataan mbak Shinta yang menjadi guide  kami hari itu yang memprediksi akan ada embun upas (embun yang menjadi es) esok pagi jika sorenya kabut turun lebih cepat apalagi ditingkahi hujan. Waktu itu reaksi pertama saya adalah tertawa tawar sambil membatin, “jadi ini belum seberapa?”
Berdiri di hadapan Merbabu di suhu tujuh derajat
Jika Dieng dengan matahari saja sudah membuat saya memesan minuman hangat di siang hari, maka malam adalah saatnya minuman panas yang langsung diserbu tanpa perlu menunggu. Saya yang biasanya bersungut-sungut apabila disajikan segelas air hangat, justru meminta hal yang sama setiap kali makan selama di sana. Bahkan ketika dinihari mendaki ke puncak Sikunir, saya yang terengah-engah sempat menolak air mineral yang disodorkan, karena botolnya sudah megembun seperti baru dikeluarkan dari kulkas. Ya mau bagaimana lagi, pagi itu sebelum matahari terbit kami berada di suhu 7°C. Lumayan, efeknya sekarang saya jadi semakin mengurangi minuman dingin karenanya.
Setelah ke Sikunir, kami juga sempat mengunjungi Batu Ratapan Angin yang langsung berhadapan dengan Telaga Warna
Dibalik hawa dingin dan panas matahari yang seakan tak mau menembus bumi Dieng, ada pemandangan yang menarik kerumunan dari berbagai penjuru. Keindahan sepadan menyaksikan matahari terbit di Puncak Sikunir atau Gunung Prau yang menjadi etalase untuk melihat puncak-puncak lain di Jawa Tengah. Saya salah satu yang beruntung mendapat kesempatan ini meski hampir menyerah. Tak hanya itu, menyapa penduduk sekitar juga jadi pengalaman menyenangkan. Mereka yang biasa hidup dalam kerukunan akan memberimu sebuah senyuman dan anggukan ketika berpapasan. Dieng pun tak hanya soal wisata, tapi juga hasil bumi yang tiada dua. Tanaman-tanaman yang tumbuh subur dan menghidupi. Sejauh mata memandang, gradasi warna hijau dari kebun warga dan coklat dari bebatuan yang menyusun pegunungan. Hasilnya selain cantik, Semur kentang, Tempe kemul, dan manisan Carica di sini tak ada dua. Silakan cicipi dan bawa pulang sendiri, ya!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here