Terima Kusta Tanpa Stigma

informasi kusta

Kulit mati rasa, muncul luka tanpa rasa sakit, otot melemah, sampai rusaknya sendi dan hilangnya jari jemari dalam satu tubuh bukan hanya menyoal rasa sakit. Keadaan ini menjadikan tubuh siapapun yang mengalaminya berubah secara tampilan maupun fungsi. Inilah beberapa gejala yang dihadapi penderita penyakit kusta. Sedihnya, rentetan ketidaknyamanan atas kusta belum ditambah berbagai stigma yang lekat sejak zaman sebelum internet ditemukan.

Kusta masih ada di Indonesia

Penyakit yang sudah diketahui penyebabnya sejak tahun 1800-an ini pada mulanya umum ditemukan pada pradaban wilayah sekitaran Afrika dan Asia. Tidak heran jika kemudian penyakit ini menyebar hampir di seluruh daerah di Indonesia. Kerja keras berbagai pihak di negeri ini pernah membuat Indonesia sebagai negara eliminasi kusta pada tahun 2000, dengan ditandai proporsi penyebarannya yang kurang dari 1:10.000 kasus.

Namun menurut data Kementrian Kesehatan (kemenkes), dua puluh tahun kemudian penyakit kusta kembali banyak ditemukan di beberapa daerah di Indonesia. Keadaan ini sangat mungkin terjaadi karena bakteri penyebab penyakit ini berkembang biak dan terinkubasi dalam waktu menahun setelah pertama kali masuk ke dalam tubuh.

Pertama kali mendengar penjelasan dokter Febrina di channel Youtube Berita KBR, saya sempat bingung mengapa penyakit ini sulit disadari para penyintasnya. Sepertinya ini karena penularannya mirip dengan COVID-19 melalui droplet, tetapi banyak gejalanya justru muncul di kulit. Bagi saya sendiri, ketika menemukan luka atau gangguan di kulit atau organ gerak, saya akan cenderung mengaitkan sebabnya dengan reaksi alergi, gigitan hewan kecil, atau akibat kecelakaan.

Ketidaksadaran atas gejala awal ini bisa jadi menjadi penyebab lain mengapa sampai saat ini kita belum terbebas dari ancaman kusta. Banyak dari penderita baru datang memeriksakan gejalanya saat terlanjur parah atau bahkan muncul komplikasi selain masalah kulit dan saraf. Tentu, jika sudah begini resiko jumlah penderita bis berpotensi semakin banyak.

Meski secara keseluruhan kasus kusta saat ini di Indonesia adalah 0,7:10.000 penduduk, secara jumlah ini berrarti ada sekitar 16 ribu lebih kasus. Sebanyak 11% dari total penderita adalah anak-anak yang punya banyak sekali energi untuk bergerak.

Stigma kusta sebagai komplikasi berbahaya

Seperti COVID-19 atau penyakit menular lainnya, keterlambatan penanganan seringkali bermula  dari rasa enggan, takut, atau malu penderitanya. Rasa sakit yang sudah sedemikian parah dan muncul setiap hari sering dianggap masih terlalu remeh dibandingkan label yang akan disematkan kepada mereka.

Sebagai penyakit yang sudah mewabah sebelum zaman prasejarah, banyak sekali stigma yang disematkan pada kusta. Dua di antaranya adalah; penyakit kusta dianggap sebagai sebuah kutukan dan penderitanya harus dikucilkan tersendiri. Padahal data, perkembangan ilmu pengetahuan, hingga teknologi telah membantah keduanya.

Stigma kusta ini tentu saja tidak hanya menyulitkan penderitanya, tetapi juga tenaga kesehatan yang bertugas melakukan pengobatan, keluarga atau kerabat yang memantau jalannya pengobatan, atau orang-orang yang memiliki resiko tertular kusta. Ketika ini terus terjadi, meskipun memiliki resiko penularan yang jauh lebih rendah dari COVID-19, kusta bisa kembali merebak dimana-mana tanpa pantauan.

Kusta tidak selamanya

Sejarah Indonesia yang pernah mencatatkan diri terbebas dari kusta ditargetkan kembali dicapai pada 2024, tiga tahun dari sekarang. Target yang terdengar ambisius sekaligus perhatian intens dari Kemenkes dan pihak-pihak terkait. Siapa? Kita tentu saja.

Mendengar obrolan “Gaung Kusta di Udara”, saya yang sudah lama sekali tak mendengar kata kusta pun terkejut lalu tersadarkan. Mungkin adik, anak, atau mereka yang berusia lebih muda juga punya reaksi yang sama dengan saya. Edukasi dan informasi menjadi jalan yang mesti dirangkai tanpa putus agar kesadaran terbangun serius.

Penyebaran fakta dan bukan stigma bagi penyintas kusta juga sangat menolong bagi kehidupan mereka selanjutnya. Mereka yang dinyatakan sembuh setelah kesabaran dan kedisiplinannya melakukan pengobatan masih bisa berkarya dan berada di tengah masyarakat. Penghapusan stigma tentang kusta bukan hanya dapat dilakukan melalui kata-kata.

Para pengusaha atau instansi negara yang bisa mempercayakan sebuah posisi dan menciptakan suasana kerja inklusif dapat sangat membantu. Kusta mungkin saja merenggut atau mengubah penampilan atau fungsi tubuh penderitanya, tapi tidak dengan semangat dan kreativitas mereka.

Tanpa keadaan medis tertentu dan stigma yang menyertai saja, kurangnya rasa percaya diri kerap menghambat kita. Tapi bagi mereka, rasa percaya kita dapat membuka harapan, bagi masa depan, bagi mereka yang kini masih berjuang. Selayaknya petir, kusta mungkin terdengar mengejutkan tapi penyakit ini tak selamanya ada.