Wisuda, seberapa pentingnya?

Wisuda, hari perayaan yang saat ini di tengah pandemi menjadi satu lagi pelajaran

0
238

Seremonial perpisahan atau wisuda sering jadi pegangan saya ketika ingin menyerah semasa sekolah dan kuliah. Beberapa kali kata dangkal atau cetek disematkan saat ada yang tahu saya sudah memikirkan bahkan mengukur kebaya wisuda sebelum saya dinyatakan lulus ujian. Level keinginan saya untuk duduk di ruang wisuda sudah lebih jauh dari itu. Saya bahkan menjadikan momen wisuda sebagai salah satu alasan kembali sekolah, sebobrok apapun saya dalam menjalani prosesnya. Apalagi wisuda terakhir saya menyisakan perasaan tak enak karena adanya bencana alam yang hampir membatalkna kehadiran ibu dan adik saya waktu itu.

Kalau dirunut, saya sepertinya sudah jatuh cinta dengan kegiatan ini sejak ada di TK. Budaya merayakan kelulusan ini membentuk rasa hangat tersendiri di hati saya. Kedatangan para orang tua. Kehadiran para guru yang lebih sering ditemui di kelas dengan wajah tak puas, berganti. Air mata yang menitik diam-diam. Senyum mereka. Foto bersama. Belum lagi teman-teman yang mau berpanas-panasan menunggu demi mengucapkan selamat atas tanggung jawab yang berhasil saya tunaikan. Kalau dihitung, kan tidak ada untungnya sebenarnya buat mereka. Begitulah, untuk seorang pelajar yang doyan sekali menangisi ketidakmampuannya belajar dengan cepat dan nilai jauh dari sempurna seperti saya, wisuda adalah hari menjadikan diri menghentikan keluh dan tangis itu sendiri.

Ketika pandemi ini datang, salah satu kegusaran saya juga wisuda. Meski masih jauh di depan, saya juga ada di barisan yang belum dipindah tali toganya. Apalagi saat ini pertanyaan kapan lebih sulit dijawab ketimbang mengapa. Proposal saya yang kadaluwarsa, belum juga selesai diganti sampai tulisan ini terbit karena saya kehilangan satu semangat. Saya makin sedih ketika mendengar beberapa teman harus menggantung kembali baju hitam jelek itu tanpa pernah digunakan, mengembalikan tiket perjalanan, dan membatalkan penginapan bagi keluarga mereka.

Di tengah takut dan sedih, saya diingatkan lewat berbagai cara. Adik saya harus menempuh kuliah dan praktikumnya semester ini lewat daring. Lebih merepotkan dari bangun pagi dan datang ke kelas terburu-buru yang bisa saya jalani semester-semester lalu. Pesan-pesan mentor juga berdatangan, mereka bilang kesusahan apapun di dunia kuliah akan berkali-kali lipat datang di dunia kerja. Jatah kegagalan yang sering dibilang untuk dihabiskan di masa kuliah juga akan tersedia banyak setelahnya. Dan yang paling penting, uang kuliah masih harus terus dibayarkan jika saya mempertahankan keinginan untuk menjalani sisa kegiatan kuliah dengan gaya lama. Terlalu lama menyandang status mahasiswa buat saya juga seperti memikul bola salju yang terus bergulung membesar setiap harinya.

Lalu apa yang saya lakukan? Karena wisuda ini adalah momen seharian, saya sengaja memberikan diri waktu menangis yang sama banyaknya. Satu hari memikirkan tentang hari ini dan bagaimana perubahan yang mungkin ada sejak munculnya pendemi. Jadi bukan menangisnya yang disengaja, proses penerimaannya yang saya hadirkan dengan niat kuat. Saya menerima kemungkinan ini bagi saya di masa depan, karena jika tidak di wisuda tanpa perayaan saya tak kan berjalan ke mimpi saya selanjutnya. Di hari yang sama, saya memanggil semua mimpi saya untuk menegaskan mengapa saya harus lulus dan mengantongi ijazah. Termasuk memikirkan, apakah kali ini sudah saja sampai sini karena beradaptasi membutuhkan energi lain yang tidak sedikit. Ingat, saya masih belum berhasil sidang proposal, mengambil data penelitian, dan ujian besar. Maka langkah tadi diulang tak cuma sekali, karena ketakutan saya lebih cepat membesar ketimbang menyadari apa yang terjadi hari ini. Orang lain yang bisa mudah beradaptasi dan tak memikirkan ini itu dalam sekali, saya mulai dengar dan baca pendapatnya. Bukan untuk hidup dengan cara mereka, tapi untuk melihat ada satu dua hal besar lebih jernih ketika milik saya sendiri tertutup rasa panik dan kalut. Sulit memang, namanya juga ujian. Seorang bijak juga menitipkan pesan,

sesuatu yang sangat menyakitkan tapi tidak mematikanmu berarti akan jadi sumber kekuatan.

Mungkin buat kita yang punya kemungkinan menghadapi lulus tanpa wisuda, ini jadi kekuatan. Bisa untuk sekolah lagi atau kekuatan berempati untuk memilih bagaimana caranya menanggapi hal-hal di luar diri. Kita hadapi sama-sama, ya. Sebab datangnya perubahan yang tiba-tiba ini bukan hanya merenggut perayaan besar di hari setelah kita dibantai berkali-kali. Ada banyak sekali tanggung jawab yang sudah menanti dan membuat kita butuh kekuatan lebih dari biasanya untuk meneruskan hidup bersama orang-orang yang kita sayangi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here